“Mengenal Hadits sebagai Sumber Hukum Islam”

Dr. Achmad Irwan Hamzani

“Mengenal Hadits sebagai Sumber Hukum Islam”

Dr. Achmad Irwan Hamzani
Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an. Tanpa menggunakan hadits, syari’at Islam tidak dapat dimengerti secara utuh dan dan sulit dilaksanakan. Untuk memahami ayat al-Qur’an, sering kali diperlukan meninjau bagaimana kondisi masyarakat ketika ayat itu turun (asbab al-nuzul), bagaimana hubungan rentetan peristiwa dengan turunnya ayat tertentu. Informasi semacam ini hanya diperoleh dalam hadits.

Secara bahasa hadits artinya al-jadid (baru), al-khabar (berita), pesan keagamaan, dan pembicaraan yang disampaikan kepada orang lain. Menurut istilah ilmu hadits, hadits adalah pembicaraan yang diriwayatkan atau diasosiasikan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dengan ungkapan lain, segala sesuatu yang berupa berita yang dikatakan berasal dari Nabi. Berita itu dapat berwujud ucapan, tindakan, pembiaran/tanda setuju (taqrir), keadaan, dan kebiasaan, (Kulu ma udhiifa illa al-nabi min qaulin aw fi’lin aw taqriratin aw shifatin). Sedangkan pengertian sunnah secara etimologi adalah “kebiasaan dan jalan (cara) yang baik dan yang jelek (al-sirat wa al-thariqat al-mu’tadat hasanatan kanat aw qabihatan). Dengan ungkapan lain, sunnah merupakan ketetapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui contoh yang dilakukan maupun pembiaran yang dilakukan oleh sahabat Nabi (Ali, 2008).

Ada perbedaan pendapat dalam mengartikan sunnah secara terminologi (istilah), di kalangan ulama. Menurut kalangan ulama ahli hadits, sunnah adalah; “segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya”. Ulama ushul fiqh mengartikan sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. dalam kapasitasnya sebagai Rasul baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir yang pantas untuk dijadikan dalil bagi hukum syara. Sedangkan ulama fiqh mengartikan sunnah adalah segala ketetapan yang berasal dari Nabi Saw. selain yang difardhukan dan diwajibkan, dan merupakan salah satu hukum yang lima (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) dan yang tidak termasuk kelima hukum itu disebut bid’ah (Zuhri, 1997: 1-4).

Hadits atau sunnah dapat dibagi ke dalam beberapa macam berdasarkan kriteria dan tinjauannya. Ditinjau dari segi bentuknya, hadits atau sunnah terbagi kepada:
1. Hadits fi’li, yaitu perbuatan atau contoh Nabi.
2. Hadits qauli, yaitu perkataan Nabi.
3. Hadits taqriri, yaitu pembiaran Nabi terhadap yang dilakukan oleh sahabat dan Nabi tidak melarangnya.
4. Hadits hammi, yaitu hadits yang menyebutkan keinginan Nabi tetapi belum terealisasikan.
5. Hadits ahwali, yaitu hadits yang menyebutkan hal ihwal Nabi yang menyangkut keadaan fisik, sifat, dan kepribadiannya (Mudasir, 1999: 33-37).

Ketika menyampaikan sebuah hadits, terkadang Nabi berhadapan dengan orang banyak, terkadang dengan beberapa orang saja, bahkan hanya dengan satu orang saja. Demikian halnya dengan para sahabat Nabi; untuk menyampaikan hadits tertentu ada yang didengar oleh banyak murid, atau mungkin hanya seorang murid saja. Begitu seterunya dari generasi ke generasi hingga perawi terakhir yang mengumpulkan hadits dalam satu kitab. Sudah barang tentu, informasi yang dibawa oleh banyak orang lebih terjamin keotentikannya dibanding yang dibawah satu atau dua orang saja. Ditinjau dari segi kuantitas orang yang menyampaikan (rawi) hadits atau sunnah terbagi kepada:
1. Hadits mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Nabi oleh banyak orang di setiap generasi, sejak generasi sahabat hingga generasi akhir (penulis kitab). Karena banyaknya perawi, maka sangat mustahil apabila mereka berbohong.
2. Hadits masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Nabi oleh beberapa orang sahabat tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Misalnya pada tingkat sahabat dan tabi’in (generasi setelah sahabat) diriwayatkan secara mutawatir, namun pasca tabi’in yaitu tabiit tabi’in (generasi setelah tabi’in) hanya diriwayatkan oleh satu atau dua orang saja.
3. Hadits ahad, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih yang tidak sampai pada derajat masyhur dan mutawatir (Zuhri, 1997: 30-38).

Ditinjau dari segi kualitas orang yang meriwayatkan, hadits atau sunnah terbagi kepada:
1. Hadits shahih, yaitu hadits yang sehat, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya, kuat hafalannya, materi (matan)nya tidak janggal, dan persambungan sanadnya dapat dipertanggungjawabkan .
2. Hadits hasan, yaitu hadits yang memenuhi persyaratan hadits shahih, kecual segi hafalan perawinya yang kurang baik.
3. Hadits dhaif, yaitu hadits yang lemah, perawinya kurang baik hafalannya, sanadnya terputus, atau tidak sampai pada derajat hasan.
4. Hadits maudhu, yaitu hadits atau sunnah palsu, yaitu yang dikarang seseorang dan dikatakan sebagai sabda atau perbuatan Nabi.

Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, hadits atau sunnah terbagi kepada:
1. Hadits maqbul, yaitu hadits yang dapat diterima.
2. Hadits mardud, yaitu hadits yang ditolak.

Ditinjau dari segi orang yang berbuat atau berkata, hadits atau sunnah dapat terbagi kepada:
1. Hadits marfu, yaitu hadits atau sunnah yang benar-benar Nabi pernah bersabda, berbuat, dan member izin.
2. Hadits mauquf, yaitu sahabat Nabi yang berbuat tetapi Nabi tidak menyaksikan perbuatan sahabat tersebut.
3. Hadits maqtu’, yaitu gegerasi setelah sahabat (tabi’in) yang berbuat atau berkata (Mudasir, 1999: 146).

Ditinjau dari segi jenis, sifat, redaksi, dan teknis penyampaian, hadits dapat terbagi kepada:
1. Hadits yang banyak menggunakan kata an (dari) menjadi hadits mu’an an.
2. Hadits yang banyak menggunakan kata anna (sesungguhnya) menjadi hadits muanna.
3. Hadits yang menyangkut perintah disebut hadits awamir.
4. Hadits yang menyangkut larangan disebut hadits nawahi.
5. Hadits yang sandarannya (sanad) terputus disebut hadits munqathi.

Kitab-kitab hadits yang sangat populer dan dijadikan rujukan adalah sebagai berikut:
1. Kitab al-Muwattha, karya Imam Malik ibn Anas (lahir 93 H. di Madinah), yang merupakan kitab hadits tertua.
2. Kitab al-Jami’ al-Shahih, karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari ( lahir 194 H, di Bukhara, Rusia, dan wafat di Samarqand 252 H.)
3. Kitab Shahih Muslim, karya Muslim ibn Hajjaj al-Naisaburi (lahir 218 dan wafat 261 H).
4. Kitab Sunan Abu Daud, karya Abu Daud al-Sijistani (lahir 202 dan wafat 275 H)
5. Kitab Sunan al-Turmudzi, karya Imam al-Turmudzi (lahir 209 dan wafat 279 H)
6. Kitab Sunan al-Nasa’i, karya Imam al-Nasa’I (lahir 215 wafat 303 H).
7. Kitab Sunan Ibn Majah, karya Imam Ibn Majah (lahir 209 dan wafat 275 H) (Zuhri, 1997: 178).

Hadits seperti halnya al-Qur’an merupakan pedoman hidup, dan sumber hukum. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Al-Qur’an sebagai sumber pertama memuat ajaran-ajaran yang bersifat global dan amm, sedangkan hadits sebagai sumber kedua tampil untuk menjelaskan (bayan) keumuman al-Qur’an tersebut. Hadits sebagai penjelas al-Qur’an (bayan al-Qur’an), memiliki tiga fungsi, yaitu; bayan al-taqrir, bayan al-tafsir, dan bayan al-tasyri.
1. Bayan al-taqrir
Disebut pula bayan al-ta’kid dan bayan al-isbat, yaitu fungsi hadits untuk menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan al-Qur’an. Fungsi hadits di sini hanya memperkokoh isi kandungan al-Qur’an. Contoh: “Idza ra’aitumuhu fashuumuu wa idza ra’aitumuhu fafthiruu”. Hadits ini men-taqrir al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 185: “… faman syahida minkum al-syahra falyashumhu …”. Bayan al-taqir juga disebut bayan al-muwafiq li al-nasi al-kitab, karena munculnya hadits sesuai dengan nash al-Qur’an (Mudasir, 1999: 76).
2. Bayan al-tafsir
Maksud bayan al-tafsir adalah memberikan perincian dan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang masih mujmal, memberikan taqyid (persyaratan), terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang masih mutlak, dan memberikan taksis (penentuan khusus) terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang masih umum. Contoh ayat yang mujmal adalah perintah shalat, puasa, zakat, jual beli, pernikahan, dll. Sebagaimana contoh hadits; shallu kama ra’aitumuni ushalli” yang menjelaskan tata cara shalat dalam al-Qur’an; wa’aqimu al-shalat wa’atu al-zakat …” (Mudasir, 1999: 77).
3. Bayan al-tasyri
Fungsi hadits sebagai bayan al-tasyri adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam al-Qur’an. Bayan ini disebut juga bayan zaid ‘ala al-kitab al-karim. Hadits Rasulullah dalam segala bentuknya berusaha menunjukkan suatu kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Nabi berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat dengan memberikan bimbingan dan menjelaskan persoalannya. Banyak hadits yang termasuk dalam kategori ini, di antaranya hadits tentang penetapan haramnya mengumpulkan dua wanita bersaudara (antara isteri dengan bibinya), hadits tentang zakat fitrah, dll. (Mudasir, 1999: 78).

Dikutip dari Buku Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia, penulis yang sama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *