“Literasi Digital sebagai Upaya Pencegahan Hoax”

Oleh : Rysma Budi Sekarwangi

Mahasiswa Fakultas Hukum

Universitas Pancasakti Tegal

Kemajuan teknologi di era revolusi industri 4.0 membawa berbagai dampak dalam penyebaran informasi. Banyaknya informasi yang diterima masyarakat menimbulkan munculnya problematika berupa berita hoax. Menurut penulis, hoax adalah berita bohong yang seolah-olah benar adanya, dilakukan oleh seseorang dengan kepentingan tertentu, demi menggiring ke arah opini yang mereka inginkan.

Di Indonesia sudah ditemukan banyak sekali berita hoax yang beredar di internet, terutama di media sosial. Berdasarkan data detiknews.com, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menemukan 30 berita bohong selama 21-22 Mei 2019.

Hoax tersebut disebarkan melalui 450 URL di Facebook, 581 URL di Instagram, dan 784 URL di Twitter. Dengan banyaknya berita bohong (hoax) yang tersebar melalui internet, maka, diperlukan upaya pencegahan. Salah satunya yaitu dengan gerakan literasi digital dalam pencegahan berita bohong (hoax).

Literasi digital dapat diartikan sebagai pemahaman, penganalisaan, penilaian terhadap suatu informasi dengan akses teknologi digital. Dalam hal ini literasi digital menuntut para pengguna internet untuk benar-benar paham akan informasi yang mereka dapat, serta menganalisis kebenaran dari informasi yang diterima, dan kemudian menilai apakah berita tersebut benar adanya atau hanya rekaan semata.

Retnowati mengemukakan bahwa literasi media atau literasi digital dikembangkan sebagai alat untuk melindungi orang dari terpaan media agar memiliki kemampuan berpikir kritis serta mampu mengekspresikan diri dan berpartisipasi dalam media Literasi digital mengharuskan para penerima informasi untuk memahami informasi bukan hanya dari satu sumber tetapi, dengan berbagai sumber terpercaya lainnya. Selain itu, literasi digital ternyata bukan hanya membiasakan pembaca untuk membaca informasi secara menyeluruh, tetapi juga memahami pesan yang ada pada informasi tersebut.

Dalam pemahaman pesan, pembaca seharusnya memiliki pengendalian emosi yang baik serta moral yang matang. Dengan adanya pengendalian emosi yang baik, maka, akan menimbulkan karakter damai dalam diri si pembaca sehingga tidak mudah terhasut berita bohong (hoax). Selain itu, moral yang matang juga mendukung pembaca menjadi kontributor anti hoax.

Adanya literasi digital selain menumbuhkan budaya membaca, juga menimbulkan sikap kritis dalam diri sendiri.Pemahaman akan informasi di media sosial akan membentuk pembaca infomasi yang dapat memilah informasi tersebut benar atau tidaknya. Sehingga, diharapkan dengan adanya literasi digital akan menumbuhkan generasi-generasi yang tidak mudah termakan berita bohong, generasi yang cinta damai dan generasi yang mampu menjaga persatuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *