Menguatkan Literasi Meraih Prestasi

Menguatkan Literasi Meraih Prestasi

Oleh: Talia Sopiyani,

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal, dan Mahasiswa Penerima Beasiswa Trasfer Kredit Belmawa Dikti di Jindal Global University, India

Era Globalisasi sekarang ini, perkembangan teknologi semakin dapat dirasakan oleh seluruh manusia terutama generasi muda. Semua aktivitas yang dilakukan sehari-hari tidak lepas dari genggaman tangan yaitu telepon seluler. Hampir seluruh anak-anak muda tidak pernah jauh dengan benda tersebut. Namun, menurut pendapat penulis, generasi muda dapat dibedakan menjadi dua hal dalam pandangan kualitas diri yaitu generasi muda yang dapat memanfaatkan telepon selulernya untuk mencari informasi yang bermanfaat atau hanya untuk sekedar hiburan. Hal tersebut disadari atau tidak disadari akan memberikan dampak untuk masa depan Indonesia kedepannya.

Pengelolaan telepon seluler tidak lepas dari budaya literasi. Definisi literasi bukanlah hanya tentang kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis, melainkan definisi literasi untuk jaman sekarang yaitu kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Kita dituntut untuk pandai mengelola berbagai macam informasi di berbagai media yang tersebar supaya dapat terhindar dari berita bohong (hoax) maupun lebih bijak dalam mengelola berbagai macam akses sosial media yang kita punya. Selain dari jejaring sosial media, generasi muda perlu untuk menambah wawasan dengan membaca tentang hal apa saja melalui buku fiksi dan non fiksi.

Generasi muda perlu diberikan kebiasaan baru untuk merasa tertarik dalam hal budaya membaca karena membaca dapat memberi manfaat kepada kita supaya lebih berwawasan luas, pemikiran yang terbuka dengan banyak perbedaan, dan lebih memahami bahwa banyak sekali berbagai macam ilmu yang perlu kita ketahui lebih lanjut. Menurut berita kominfo.go.id, terdapat fakta pertama yaitu melalui riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.Fakta kedua, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget.

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Hal yang lebih membuat ironis, menurut data wearesocial per Januari 2017, masyarakat Indonesia memiliki minat baca buku yang rendah namun dapat bermain telepon seluler kurang lebih 9 jam per hari. Penambahan data tersebut, Indonesia menjadi urutan ke 5 dunia yang paling aktif di sosial media, dengan hasil seperti itu tidak mengherankan Indonesia dapat menjadi tujuan yang mudah untuk info yang bersifat provokasi, hoax, fitnah, maupun ujaran kebencian (hate speech). Berdasarkan informasi diatas, penulis berpendapat, kurangnya budaya literasi yang dilakukan masyarakat Indonesia terutama generasi muda dapat menjadi boomerang, apabila generasi muda memiliki keinginan meskipun sedikit demi sedikit untuk melakukan budaya membaca buku bahkan sampai melakukan diskusi dalam suatu forum, itu merupakan hal positif dan generasi muda tidak mudah terbawa informasi yang tidak jelas sumbernya.

Indonesia sudah memberikan hak warga negara untuk memperoleh Pendidikan yang baik, yang ditujukan pada Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Meskipun belum sepenuhnya hak didapatkan, namun dengan adanya kebebasan untuk belajar dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk menggali ilmu. Apabila mengingat sejarah pada jaman penjajahan, dimana nenek moyang kita sangat sulit untuk mendapatkan akses belajar dan hanya golongan elite saja yang mendapat kesempatan untuk mengenyam Pendidikan. Sekarang, Pemerintah terus menggencarkan dalam dunia Pendidikan dengan banyak memberi bantuan kepada siswa dan mahasiswa supaya tidak ada permasalahan dalam hal finansial yaitu dalam bentuk beasiswa dengan banyak jenis beasiswa yang diberikan. Canggihnya teknologi jaman sekarang, kita dapat mencari akses beasiswa kapanpun dan dimanapun, tinggal diri kita sendiri mau bersungguh-sungguh atau tidak dalam mencari informasi.

Kesimpulan pada artikel ini, penulis berharap dengan generasi muda Indonesia yang akan menjadi tongkat estafet penerus perjuangan negara tercinta ini, perlu penambahan kualitas diri dengan menambah wawasan melalui pengambangan budaya literasi, salah satu caranya membaca buku. Ditambah lagi dengan akan datangnya AFTA (ASEAN Free Trade Area) atau Kawasan perdagangan bbebas ASEAN yang mana akan terjadi interaksi langsung basis produksi dalam pasar dunia dan hal tersebut membuat generasi muda harus lebih melek dengan perkembangan dunia. Jaman boleh berubah, kita juga tidak boleh tertinggal dengan perkembangan jaman, namun sebagai generasi milenial perlu memahami berbagai hal dengan tetap pandai dalam filter pada perbedaan supaya lebih bermanfaat untuk masa depan.

https://baladena.id/menguatkan-literasi-meraih-prestasi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *