GAGASAN: PATEN: “Menjawab Globalisasi Mendongkrak Ekonomi” Oleh: Kanti Rahayu, S.H., M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

GAGASAN

PATEN : “ Menjawab Globalisasi Mendongkrak Ekonomi”

Oleh: Kanti Rahayu, S.H., M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Kekayaan Intelektual mengandung hak atas kepemilikan terhadap karya-karya yang timbul atau lahir karena adanya kemampuan intelektualitas manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Karya-karya tersebut merupakan hasil kemampuan intelektualitas seseorang atau manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melalui daya cipta, rasa, karsa dan karyanya, yang memiliki nilai-nilai moral, praktis dan ekonomis.

Pada intinya KI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual dimana objek-objek yang diatur dalam KI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektualitas manusia.Secara prinsip bentuk-bentuk kepemilikan Kekayaan Intelektual dapat dibedakan sebagai berikut :Pertama, kepemilikan personal yang terdiri atas Hak Cipta dan Hak Terakhir, dan Hak Milik Industri yang meliputi: Paten, Merek, Desain Industri, Rahasia Dagang, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Varietas Tanaman.Kedua, kepemilikan komunal, yang terdiri atas: Ekspresi Budaya Tradisional, Indikasi Geografis/Indikasi Asal, dan Pengetahuan Tradisional.

Paten merupakan bagian dari Kekayaan Intelektual yang pengertiannya adalah Hak Eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan sendiri invensi tersebut atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Sebagaimana tertuang didalam Pasal…Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten sebagai perubahan dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten. Paten mengandung hak ekonomis bagi inventor atau pemegang paten atas invensinya yang dapat dikomersialisasi sehingga berhak melarang pihak lain untuk menggunakan invensinya tersebut tanpa ijin atau secara illegal.

Syarat-syarat Paten adalah :Invensi bersifat baru, Invensi tersebut belum pernah diumumkan di Indonesia atau di luar Indonesia dalam suatu tulisan, uraian lisan atau melalui peragaan;Langkah inventif yang merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya;Pemakai Terdahulu yakni Pihak yang melaksanakan suatu invensi dapat mengajukan permohonan ke Kantor DJKI untuk diakui sebagai ‘pemakai terdahulu’.

Paten dapat berupa Produk dan Proses. Paten yang berupa produk haruslah dapat diproduksi secara massal dengan kualitas yang sama, sedangkan Paten yang berupa proses harus dapat digunakan dalam praktik. Perlindungan Paten dibedakan menjadi 2 (dua) macam yakni :

Paten Sederhana dengan jangka waktu perlindungan selama 10 (sepuluh) tahun;

Paten Biasa dengan jangka waktu perlindungan selama 20 (dua puluh) tahun.

Sistem pendaftaran di Indonesia adalah “First to File” yaitu suatu sistem pemberian paten yang menganut mekanisme bahwa seseorang yang pertama kali mengajukan permohonan dianggap sebagai pemegang paten, bila semua persyaratannya dipenuhi. Paten merupakan perangkat perlindungan hukum terhadap Kekayaan Intelektual dibidang teknologi yang menjadi salah satu indikator kemajuan suatu Negara. Di tengah era teknologi kini, Negara penghasil teknologi adalah Negara pemegang Paten dan dengan Paten mereka dapat melarang Negara lain untuk meniru atau menggunakan teknologi yang mereka hasilkan tanpa ijin.

Pemberian ijin dalam menggunakan Paten berarti membayar Royalti sebagai bentuk manfaat ekonomis yang dinikmati oleh Negara Inventor karena Paten yang dimilikinya.

Pemerintah Indonesia perlu melakukan penguatan elemen-elemen Negara yang dapat menghasilkan Paten. Diantara elemen-elemen yang ada saat ini adalah UMKM yg secara kasat mata telah mampu menopang perekonomian masyarakat Indonesia secara langsung dan perekonomian Negara secara tidak langsung. UMKM harus terus didorong untuk mampu menghasilkan inovasi teknologi meski masih berbasis teknologi sederhana. Indonesia bukan tak mampu untuk menghasilkan teknologi tetapi lebih kepada pertimbangan sosial budaya yang kurang pada tempatnya terkadang justru menjadi penghambat lahirnya teknologi dari Indonesia.

Telah banyak bukti bahwa Paten memiliki manfaat besar bagi peningkatan pendapatan Negara melalui pintu teknologi. Negara-negara yang sebelumnya secara ekonomi merupakan Negara berkembang kini tumbuh menjadi Negara maju akibat pengembangan teknologi yang berani mereka lakukan.

Tiongkok merupakan contoh nyata yang bukan tidak mungkin dapat diikuti oleh Indonesia dalam hal berinovasi teknologi. Tahun 2020 ditengah hiruk pikuk badai pandemi Covid-19, Tiongkok justru keluar sebagai Negara paling inovatif di dunia dengan angka pendaftaran Paten PCT mencapai angka 68,720 sekaligus menjadi angka Pendaftaran Paten PCT tertinggi di dunia mengalahkan Amerika Serikat yang sebelumnya menduduki ranking pertama.

Oleh: Kanti Rahayu, S.H., M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

baladena.idPATEN : “ Menjawab Globalisasi Mendongkrak Ekonomi” | Baladena.IDKekayaan Intelek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *