Palestina, Israel dan Tanah yang Dijanjikan Oleh: Dr. Achmad Irwan Hamzani, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Palestina, Israel dan Tanah yang Dijanjikan

Oleh: Dr. Achmad Irwan Hamzani, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Konflik terakhir Israel versus Palestina baru saja berakhir lewat gencatan senjata. Kedua belah pihak pun saling mengklaim kemenangan. Hal ini tentu akan akan menjadi bibit konflik-konflik berikutnya.Sangat mudah diprediksi bahwa konflik, bentrokan bahkan pertempuran pasukan Israel dan milisi Palestina akan kembali terjadi. Perjanjian damai di antara keduanya lebih sulit diprediksi apalagi menuju perjanjian damai yang permanen.

Konflik Israel-Palestina merupakan konflik terluas dan terus berlanjut. Kedua negara akan selalu saling mengkalim berdaulat. Dapat dipastikan bahwa seluruh bangsa Israel (atau bahkan seluruh orang Yahudi yang berkebangsaan Israel) memiliki satu pandangan yang sama bahwa mereka menempati tanah mereka yang telah dijanjikan Tuhan. Sebaliknya, seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Apalagi mereka telah berabad-abad menempati.

Memang, dalam konflik orang berlomba menarik waktu terjauh yang sulit dibuktikan. Israel berupaya membuktikan bahwa mereka sudah dulu di sana. Menurut mereka, dahulu Musa datang di Tanah yang kosong setelah diaspora. Mungkin tanah tersebut semula dihuni oleh hantu.Seperti halnya dalam legenda Jawa bahwa Aji Saka memggambarkan penguasa Jawa dahulu hanyalah barbar pemakan manusia sebelum kedatangan bangsa India. Atau cerita Columbus menemukan tanah Amerika seperti tanah itu tidak ada manusianya. Padahal suku-suku Indian sudah hidup berabad-abad di sana.

Sumber klaim Israel adalah Perjanjian Lama. Kita suci mereka dijadikan sumber legitimasi. Setelah ratusan tahun mereka migrasi terusir tanpa bukti hak kepemiikan tanah selain apa yang disebut janji Tuhan, orang-orang yang sebenarnya lahir di Eropa Ratusan tahun dan tidak punya hubungan lagi dengan tanah Timur Tengah tiba-tiba datang menyerobot tanah dengan dalih membawa janji Tuhan atas tanah yang diperjanjikan.

Sulit dilogika jika orang Jawa di Suriname datang lagi ke Jawa dan mengklaim bahwa tanah-tanah sekarang sudah berdiri mal, hotel, kantor-kantor pemerintah, dan bangunanya lainya diklaim bahwa dulu itu milik nenek moyang mereka dan sekarang diminta/dirampas kembali. Apakah penduduk Jawa saat ini akan menyerahkannya kepada mereka? Sampai kapanpun tentu penduduk Jawa akan melakukan perlawanan.Konflik Sudah Satu AbadKonflik Israel-Palestina seperti bara yang tidak pernah padam dan selalu memanaskan konstelasi politik Timur Tengah. Konflik dimulai setelah Inggris menguasai wilayah Palestina. Sebelumnya di bawah kekuasaan Turki Utsmani. Palestina jatuh ke tangan Inggris setelah Turki Utsmani kalah dalam Perang Dunia I.

Saat itu, tanah Palestina dihuni oleh mayoritas keturunan Arab dan minoritas keturunan Yahudi.Saat itu, dunia “Internasional” memberi mandat kepada Inggris untuk mendirikan “rumah nasional” bagi warga Yahudi di Palestina. Bagi Yahudi, tanah itu milik leluhur mereka. Sebaliknya, bagi warga Arab di Palestina tanah itu milik mereka dan sudah ditempati turun-temurun dan menentang kedatangan pendudukan Yahudi.Antara dekade 1920-an dan 1940-an, jumlah warga Yahudi yang datang ke wilayah itu makin meningkat. Banyak dari mereka yang melarikan diri dari persekusi di Eropa dan mencari Tanah Air sendiri setelah tragedi Holocaust dalam Perang Dunia II. Bersamaan dengan itu, konflik Arab-Yahudi dan perlawanan terhadap kekuasaan Inggris juga meningkat.Tahun 1947, pemungutan suara di PBB menghasilkan rencana untuk memecah Palestina guna memisahkan warga Yahudi dan Arab, sementara Yerusalem dijadikan kota internasional. Usulan itu diterima dengan penuh suka cita oleh para pemimpin Yahudi, dan tentu saja ditolak kubu Arab, sehingga tidak diterapkan.Tahun 1948, Inggris yang tidak mampu mengatasi masalah akhirnya menyerah dan pergi dari Palestina.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh para pemimpin Yahudi untuk mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Warga Palestina tentu saja keberatan dengan deklarasi itu dan perang pun meletus. Pasukan dari berbagai negara Arab di sekitarnya melakukan invasi. Ratusan ribu warga Palestina melarikan diri atau diusir dari rumah mereka dalam peristiwa yang disebut sebagai al-Nakba, atau “prahara”. Tahun berikutnya, ketika pertempuran berakhir dengan gencatan senjata, Israel sudah menguasai sebagian besar wilayah Palestina. (Bersambung).

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh: Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

https://baladena.id/palestina-israel-dan-tanah-yang…/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *