Pandemi Covid-19 dan Meningkatnya Angka Perceraian dan Pernikahan Dini Oleh: Ahmad Fityan Abdussalam, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Pandemi Covid-19 dan Meningkatnya Angka Perceraian dan Pernikahan Dini

Oleh: Ahmad Fityan Abdussalam, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Pandemi Covid-19 yang mulai melanda seluruh dunia pada akhir tahun 2019 dan masih berlangsung sampai saat ini menimbulkan beberapa implikasi secara langsung dan tidak langsung kepada tatanan norma kebiasaan suatu masyarakat. Hal ini tetap perlu direspon atau disikapi secara positif. Tentunya implikasi tersebut tidak berujung kepada hal-hal yang negatif.

Dampak pandemi Covid-19 salah satunya terhadap meningkatnya angka pereraian. Dalam kurun waktu tahun 2020, hingga Agustus tercatat jumlah kasus perceraian sudah mencapai 306.688. Secara umum faktor penyebab perceraian pada masa pandemi Covid-19 terjadi karena adanya konflik dalam rumah tangga yang disebabkan oleh permasalahan ekonomi, terjadi pertentangan atau konflik internal maupun eksternal anggota keluarga, pola komunikasi yang berubah, dan faktor usia dalam membina rumah tangga.

Permasalahan tersebut jelas menyimpang dengan tujuan diadakannya perkawinan. Harus diakui bahwa pada masa pandemi seperti ini sulit untuk menghindari. Tujuan perkawinan itu sendiri menurut agama Islam adalah untuk memenuhi tuntutan naluri hidup manusia, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan keluarga sesuai perintah Allah Swt dan Rasul-Nya. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah.Pemerintah atau dalam hal ini Kementrian Agama melalui direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah juga berupaya menekan angka perceraian. Salah satu caranya yaitu bersinergi dengan Badan Penasihat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) dengan membuat program bimbingan penguatan ketahanan keluarga.

Pernikahan DiniPerkawinan anak atau sering dipopulerkan sebagai pernikahan dini juga meningkat. Selama pandemi dispensasi pernikahan anak masih marak diajukan. Laporan UNICEF menunjukan 457.600 perempuan usia 20-24 tahun di indonesia menikah sebelum berusia 15 tahun. Perkawinan anak bukannya menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan efek domino yaitu meningkatnya angka perempuan putus sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, anak stunting serta kematian ibu dan anak.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1994 tentang Perkawinan telah menaikkan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Dengan demikian usia perkawinan wanita sama dengan usia kawin laki-laki. Meskipun demikian, Undang-Undang mengatur lebih lanjut dan tetap mengatur izin pernikahan di bawah usia 19 tahun yang syaratnya kedua orang tua calon mempelai meminta dispensasi ke Pengadilan Agama. Hal ini membuat pengaturan batas usia penikahan anak menjadi sangat fleksibel.Beberapa faktor pendorong pernikahan dini antara lain karena faktor ekonomi, minimnya edukasi, norma sosial dan budaya. Lebih khusus lagi, selama pandemi banyak terjadi penutupan sekolah. Anak-anak usia SMP dan SMA justru memanfaat penutupan sekolah dan pembelajaran online dari rumah, lebih banyak dimanfaatkan untuk bermain. Tidak sedikit akibat pergaulan bebas pada akhirnya banyak terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki, dan akhirnya terpaksa harus dinikahkan.

Padahal dampak akibat perkawinan dini ialah usia kehamilan yang terlalu muda cenderung riskan mengalami komplikasi baik selama kehamilan atau saat melahirkan. Hal ini dikarenakan kondisi tubuh anak perempuan yang belum siap untuk mempunyai anak. Komplikasi yang sering ditemui pada ibu hamil antara lain: Keguguran, berat badan tidak cukup serta infeksi yang semuanya berkontribusi pada angka kematian ibu, sedangkan komplikasi yang terjadi pada anak antara lain: Berat badan lahir rendah, stunting hingga kematian anak. Selain dalam hal kesehatan/medis pernikahan dini juga mempunyai konsekuensi sosial yang paling dominan yaitu putus sekolah. Hal ini akan merembet pada kesempatan kerja dan ekonomi keluarga juga resiko KDRT yang semakin meningkat.

Oleh: Ahmad Fityan Abdussalam, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

https://baladena.id/pandami-covid-19-dan-meningkatnya…/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *