Syawalan yang Paradoks Oleh: Dr. Achmad Irwan Hamzani, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Syawalan yang Paradoks

Oleh: Dr. Achmad Irwan Hamzani, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Udah dua pekan lebih Ramadhan berlalu atau sudah berada di pertengahan Bulan Syawal. Tidak ada kepastian apakah tahun depan masih diberi kesampatan untuk bertemu dengan Ramadhan lagi sehingga kembali menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan, menggapai keutaman-keutamaannya. Atau sebaliknya, jatah umur di dunia sudah habis. Sebagai orang yang beriman hanya bisa berharap, agar ibadah-ibadah yang dikerjakan selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah Swt., dan dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya.

Para salafus shalih berdoa selama enam bulan sejak Syawal hingga Rabiul Awal agar ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima, lalu dari Rabiul Awal hingga sya’ban berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Arti syawal adalah peningkatan. Demikianlah seharusnya. Pasca Ramadhan, diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat taqwa, menjadi muttaqin. Hingga mulai bulan Syawal kualitasnya meningkat. Kualitas ibadah, juga kualitas diri seseorang.

Namun fakta justru sebaliknya. Syawal menjadi bulan penurunan. Penurunan ibadah, juga penurunan kualitas diri. Indikatornya yang sangat jelas adalah masjid-masjid akan kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Umpatan, luapan emosional, dan kemarahan kembali “membudaya”. Ini semu bertolak belakang dengan arti Syawal.

Fenomena itu sesungguhnya juga menunjukkan bahwa puasa orang yang demikian kurang berhasil. Tidak mampu mengantarkan seseorang meraih derajat taqwa, atau mendekatinya. Fenomena itu menjadi indikator yang mudah diketahui oleh siapa saja yang mau memperhatikan dengan seksama. Bisa menggunakan parameter hadits Nabi sebagai kaidah: “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.”Lalu bagaimana amal seorang muslim di bulan Syawal? Berangkat dari kaidah umum dari hadits Nabi tersebut, dan sekaligus sejalan dengan makna syawal, maka harus ada peningkatan.. Peningkatan itu tidak lain adalah berangkat dari sikap istiqamah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Huud ayat (112): Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud : 112)Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara kontinyu, terus-menerus. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw.: Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)Amal-amal yang telah dibiasakan di bulan Ramadhan, hendaknya tetap dipertahankan selama bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Tadarus al-Qur’an setiap hari. Shalat malam yang sebelumnya selalu melaksanakan tarawih, di bulan Syawal ini hendaknya tidak meninggalkan shalat tahajud dan witirnya. Infaq dan shadaqah juga dipertahankan. Demikian pula nilai-nilai keimanan keikhlasan dan kejujuran yang tumbuh kuat di bulan Ramadhan.

Penurunan amal di bulan Syawal merupakan paradox yang seharusnya dihindari. Justru seharusnya, sesuai dengan makna syawal, harus mengalami peningkatan dengan berupaya istiqamah serta meningkatkan kualitas ibadah.Ibadah yang dikerjakan di bulan Ramadhan juga harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Artinya, latihan selama Ramadhan guna memperoleh derajat takwa dapat membekas, dapat terimplementasi dalam kesadaran kehidupan beragama.

*Dikutip dari berbagai sumber.

Oleh: Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

baladena.idSyawalan yang Paradoks | Baladena.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *