PPKM dan Masa Depan Pendidikan Oleh: Dr. Imawan Sugiharto , M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

PPKM dan Masa Depan Pendidikan

Oleh: Dr. Imawan Sugiharto , M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Kebijakan PPKM ( Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ) melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2021 tentang PPKM Darurat Covid 19 yang berlaku dari tanggal 3 Juli sampai 20 Juli 2021. Kemudian Presiden Jokowi Memperpanjang Kembali PPKM sampai tanggal 2 Agustus, 9 Agustus, dan 16 Agustus 2021 sampai tulisan ini dibuat. PPKM diterapkan di wilayah Jawa dan Bali.

Kebijakan ini secara garis besar membatasi segala aktivitas kegiatan masyarakat baik pegawai, kantor, pasar maupun sekolah sekolah. Bagi semua komponen terkena dampaknya, baik pedagang, efektiftas kantor instansi swasta dan negeri / Pemda. Termasuk juga bagi dunia Pendidikan. Sekolah maupun perguruan tinggi tidak boleh mengadakan pembelajaran tatap muka, termasuk juga tatap muka dengan jumlah siswa / mahasiswa , apakah dibuat 25 % atau 50 % , semua tidak boleh diadakan.

Dampak lainnya bagi dunia Pendidikan adalah pada saat sekarang, semua sedang dalam tahap penerimaan siswa dan mahasiswa baru. Pembatasan kegiatan masyarakat PPKM memberikan dampak dan pengaruh yang luar biasa. Pemasaran mengalami kesulitan, untuk terjun ke sekolah sekolah / kantor tidak bisa. Jalur pemasaran yang diambil dengan media sosial, sebagai salah satu cara yang bisa maksimal untuk mendapatkan siswa / mahasiswa baru.Dampak yang muncul dengan adanya PPKM, membuat sekolah/ perguruan tinggi ( PT ) menjadi semakin sedikit jumlah siswa/ mahasiswa baru.

Bagi Lembaga Pendidikan swasta, tentu memberikan pukulan yang luar biasa. Dengan terbatasnya anggaran Pendidikan subsidi dari pemerintah yang semakin berkurang, bantuan sarana dan prasara sekolah yang semakin sedikit mendapatkannya, termasuk bantuan BOS dan bantuan untuk mahasiswa lewat beasiswa yang semakin sedikit, memberikan jalan yang berat. Jika siswa/ mahasiswa yang di dapat sedikit, maka untuk menutup biaya operasional semakin mengalami kesulitan.

Kondisi ini jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama, akan membuat Lembaga Pendidikan kolaps dan kesulitan beroperasi.Salah satu tokoh Pendidikan yang cukup dikenal dunia adalah Paolo Freire dari Brazil. Menurutnya kodrat manusia adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau obyek. Pandidikan adalah jalan untuk membangun jatidiri subyek.

Melalui peran subyek, Pendidikan bisa membebaskan dari ketidakadilan, begitu banyak orang mendapatkan keadilan harus melalui cara yang tidak benar, bahkan dengan membayar. Melalui peran subyek, maka Pendidikan adalah sebagai cara untuk memanusiakan manusia ( humanisasi ). Dehumanisasi memang telah terjadi dan ada sejak munculnya eksploitasi negara terhadap negara jajahannya.Pendidikan menjadikan pribadi subyek yang bisa membuat sebuah perubahan besar bagi lingkungannya. Pendidikan lewat pintu dialektika, egaliter mengajarkan akan pentingnya membaca alam untuk alam Kembali. Pendidikan memberikan peran sentral bagi pribadi untuk membangun sebuah peradaban.

Ada moral, nilai kebenaran, harapan dan motivasi yang bisa didapatkan dari Pendidikan.Pendidikan juga menciptakan humanisasi. Membangkitkan Kembali rasa kemanusiaan. Lewat kebersamaan, canda tawa, interaksi sosial setiap pelaku Pendidikan. Manusia akan dimanusiakan didalam dunia Pendidikan. Menebarkan kekuatan, kebersamaan, saling tolong menolong dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuler sekolah.Namun semua itu hilang, luluh lantah tak berbekas, Ketika PPKM merenggut semuanya. Interaksi ditiadakan, pembelajaran dua arah ditutup, apalagi proses dialektika . Semua aktivitas Pendidikan ditiadakan.

Maka sekolah, perguruan tinggi dan juga Pondok Pesantren harus tutup, semua proses ditiaadakan. Dampak yang dirasa dari PPKM ini menjadikan asa Pendidikan menjadi tercerai berai.Manusia kehilangan jadi dirnya, humanisasi berhenti, asa Pendidikan hilnag tidak berbekas, dengan diberlakukannya PPKM.PPKM dan Pendidikan yang DiharapkanMaka dengan diberlakukannya PPKM, peran Pendidikan jangan sampai hilang tidak berbekas. Pendidikan adalah perubah dunia, Pendidikan adalah garda moral bangsa, Pendidikan adalah perubah bangsa.

Pendidikan harus di buka Kembali, dengan aturan protocol Kesehatan yang baik dan ketat. Buat mekanisme siswa dlam satu rombongan kelas, menjadi 25% atau bertahap sampai 50 %. Alat Kesehatan seperti masker disediakan disetiap kelas. Hans sanitizer , desinfektan disiapkan oleh sekolah untuk disemprot setiap berkala. Membuka dunia Pendidikan ,akan membuka imunitas bangsa. Anak anak bangsa di rumah saja tidak memberikan harapan, bahkan yang terjadi frustasi, dikarenakan tidak ada interaksi dengan kawan kawan. Beberapa kasus bunuh diri banyak terjadi akibat adanya pengaruh psikologi anak sekolah yang dirumah saja dalam jangka yang lama.

Jalan terbaik membangun humanisasi tanpa mengobarkan dan menghilangkan tujuan PPKM adalah membuka dunia Pendidikan dengan aturan protocol kesehatan yang ketat dan disiplin. Agar bangs ini tidak kering, bangs ini bisa bernafas dengan moral dan etika, anak anak sekolah/ mahasiswa bisa ceria Kembali mengarungi kehidupannya.

*Dikutip dari berbagai sumber.Oleh: Dr. Imawan Sugiharto, M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

https://baladena.id/ppkm-dan-masa-depan-pendidikan/+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *