Download & Informasi

Khutbah Jumat :

“Nasihat dalam Menghadapi Virus Corona”
Dr. AI Hamzani

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ اشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ. أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Segala puji bagi Allah Swt., yang telah memerintahkan kita untuk selalu bertakwa kepada-Nya.
Shalawat serta salam kita haturkan kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Saat ini kita sudah memasuki bulan Sya’ban, kurang satu bulan lagi sudah memasuki bulan Ramadhan.
Di satu sisi kita harus bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan nanti, di sisi yang lain kita juga sangat prihatin terhadap kondisi dunia saat ini khususnya di negara kita yang masih harus kerja ekstra agar segera terbebas dari musibah Virus Covid-19 atau Corona.
Isu lockdown bahkan sebagian sudah menjadi kebijakan, sangat berdampak secara sosial ekonomi, hingga kegiatan keagamaan. Bahkan MUI sudah sampai mengeluarkan himbauan agar shalat Jumat diganti dengan shalat duhur di rumah, juga shalat jamaah di masjid diganti di rumah, maupun kegiatan-kegiatan keagamaan yang dihadiri orang banyak agar dihindindari.
Kalau keadaan ini terus berlanjut, tentu kita tidak akan menemukan nikmatnya shalat tarwih berjamaah, shalat idul fitri, maupun silaturahmi. Ini tentu sangat menyedihkan. Mari kita berdoa, semoga segera berlalu.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Lalu apa yang dapat kita lakukan dalam menghadapi situasi ini? Sebagai orang awam atau rakyat biasa, tentu kita harus mematuhi apa yang sudah menjadi kebijakan pemerintah, misalnya untuk tidak keluar dari rumah atau menghindar dari kerumunan orang banyak. Dalam menghadapi wabah, Rasulullah Saw. pernah bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا. متفق عَلَيْهِ
Artinya: “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Hadits inilah yang saat ini dapat dimaknai sebagai lockdown.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Selain itu, sebagai seorang muslim ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:
Pertama, kita harus bertawakal kepada Allah, ingatlah segala sesuatu terjadi karena kuasa Allah dan sudah menjadi takdir-Nya. Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)
Kedua, bersabar. Allah Swt. berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ , الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ . أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (segala sesuatu milik Allah dan kembali kepada Allah). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Ketiga, kita harus berusaha melakukan ikhtiar dan sebab. Lakukanlah sebab dan juga lakukan berbagai upaya untuk mengobati penyakit. Berobat dan mencari sebab bukan hal yang bertentangan dengan tawakal. Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ
Artinya: “Barangsiapa di pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwa, maka ia tidak akan terkena racun dan sihir pada hari itu.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5779 dan Muslim no. 2047).
Keempat, kita harus memperkuat diri dengan dzikir, terutama dzikir pagi dan petang. Rasulullah Saw. bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ
Artinya: “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim (dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak aka nada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Kelima, jangan mudah percaya berita bohong atau Hoax, pandai-pandailah dalam menyaring berita. Sebagai seorang muslim, kita harus menyikapi berita dengan cara mengeceknya terlebih dahulu, Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).
Jamaah jumat rahimakulullah
Ingatlah bahwa musibah yang paling besar adalah musibah yang menimpa agama, bukan musibah dunia. Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi “Sesungguhnya aku ditimpa musibah dan aku memuji kepada Allah karena empat hal: 1) Aku memuji Allah atas ujian yang tidak lebih besar dari yang menimpa ini, 2) Aku memuji Allah tatkala aku diberikan kesabaran atasnya, 3) Aku memuji Allah karena diberikan taufik mengucapkan kalimat Istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un) hingga mengapai pahalanya, 4) Aku memuji Allah karena musibah yang menimpaku bukan musibah dalam agamaku.”
Demikianlah khutbah ini semoga bermanfaat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ
Khutbah kedua
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .

https://baladena.id/banjir-tinjauan-teologis/

BANJIR: Tinjauan Teologis

Oleh : Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Musibah banjir kembali melanda beberapa daerah di Indonesia dan menjadi berita yang viral di media sosial. Musibah banjir telah menelan korban banyak korban baik  jiwa maupun harta benda. Peristiwa ini tentu menyedihkan dan memprihatinkan. Apalagi musibih banjir seakan mendi rutinitas ketika puncak musim hujan tiba.

Lalu bagaimana musibah banjir ini dilihat dari perspektif teologis? Semua peristiwa yang terjadi di dunia ini ada ibrah (pelajaran) dan hikmah yang bisa diambil.

Secara ilmiah, bencana yang berkaitan dengan alam semesta ini ada dua macam penyababnya; pertama, karena ulah manusia sendiri (human eror), seperti banjir, longsor, kebakaran. Kedua, karena fenomena alam seperti gunung meletus, gempa, angin kencang, dan tsunami.

Terhadap bencana yang pertama seperti banjir dan tanah longsor, manusia  perlu introspeksi terhadap apa yang telah dilakukannya terhadap alam. Apakah sudah menjaga dan mengelolanya dengan baik, atau sebaliknya telah berbuat kerusakan (kufur alam). Perlu diperhatikan firman Allah Swt. dalam surat al-Rum ayat 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Ayat ini menyebutkan bahwa musibah yang menimpa manusia itu tidak lain disebabkan oleh perbuatannya sendiri, dan merupakan peringatan terhadap apa-apa yang diperbuat khususnya dengan alam yang dianugerahkan kepada manusia untuk dikelola dan dijaga dengan baik.Baca Juga  Ketegasan Jokowi Dukung Hukuman Mati Koruptor Terlihat Garing

Fenomena bencana banjir, tanah lonsor merupakan teguran dari Allah karena perbuatan manusia sendiri. Tentu tidak bijak jika hanya menyalahkan pemerintah saja, apalagi menyalahkan Tuhan, seolah-olah Tuhan sangat kejam kepada manusia.

Mensikapi bencana ini perlu kajian aspek teologis untuk menemukan relevansinya, yang setidaknya disebabkan karena tiga hal;.

Pertama, tidak adanya kesadaran teologis umat manusia untuk menjaga keseimbangan eko sistem. Manusia lalai sehingga tidak menyadari bahwa menjaga keseimbangan alam sangat penting bagi eksistensi masa depan kehidupan di dunia. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Baqarahayat 30: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia diberi tugas untuk mengurusi, memakmurkan, dan melestarikan bumi beserta isinya agar tetap serasi, harmonis di tengah kehidupan. Hal ini relevan dengan fungsi manusia sebagai rahmat bagi alam semesta. Khalifah juga bermakna menggantikan, artinya hidup “manusia” di dunia ini bergantian, saling menggantikan dari generasi ke generasi berikutnya.

Kedua, lemahnya pengetahuan geologi. Akibat manusia tidak menjaga keseimbangan alam semesta itu, maka banjir menjadi tidak terhindarkan. Secara geologis, banjir terjadi karena bumi tidak lagi mampu menampung air dari curah hujan yang sangat tinggi. Penyebab utamanya adalah karena semakin menipisnya daerah-daerah serapan air hujan, beralih fungsinya lahan-lahan persawahan, perkebunan, perbukitan, menjadi pemukinan dan sebagainya. Akibatnya, tidak ada lagi yang bisa menghisap air ketika musim hujan, dan akan menjadi sangat panas di musim kemarau kerena semakin sedikitnya pepohonan.Baca Juga  Hadats Kecil dan Penyebabnya

Ketiga, pola hidup yang kurang memperhatikan aspek-aspek kebersihan lingkungan. Menurut Hadis Nabi, kebersihan merupakan sebagian dari sikap keberimanan kepada Tuhan. Faktanya, masyarakat banyak yang tidak menempatkan kebersihan sebagai pola hidup yang utama. Masyarakat sudah terbiasa membuang sampah di sembarang tempat. Implikasinya bukan saja menjadikan saluran air mampet sehingga menyebabkan banjir, tapi juga dapat mendatangkan berbagai penyakit.

Selanjutnya, terkait dengan bencana seperti gunung meletus, gempa, angin kencang, dan tsunami perlu merenungkan firman Allah  dalam Surat al-Nahl ayat 112:  “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”

Ayat ini memberikan deskripsi bahwa Allah itu Maha Adil dan Maha Bijaksana. Allah tidak akan menurunkan bala’ dan bencana atas suatu kaum kecuali karena perbuatan maksiat dan pelanggaran mereka terhadap perintah-perintah Allah. Apabila umat manusia masih terus menerus menentang perintah-perintah Allah, melanggar larangan-laranganNya, maka bencana demi bencana akan datang silih berganti sehingga mereka betul-betul sadar dan bertaubat kepada Allah.

Mungkin ada sebagian orang ragu tentang maksiat merupakan sebab timbulnya bencana. Hal ini karena kelemahan iman dan kurang mereka merenungkan kandungan isi al-Qur’an. Seorang filusuf terkena dalam sejarah filsafat, Plato, juga pernah mengemukakan tentang hubungan bencana dengan kerusakan moral masyarakat. Dia menyatakan bahwa: “Atlantis yang subur dan rakyatnya makmur, kemudian dihancurkan oleh Tuhan dengan bencana dahsyat, karena masyarakatnya tidak bersyukur.” Dengan demikian, tentu relevan mengaitkan bencana yang terjadi dengan semakin maraknya berbagai macam praktek kemungkaran yang terjadi secara terbuka dan merata di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lamu bi al-shawab

Penting : Pendaftaran Ujian Skripsi untuk Kelulusan Periode 2018-2019 di Tutup hari Rabu, 1 Juli 2019 Pukul 13.00 WIB, Pelaksanaan Ujian Susulan di Jadwalkan Hari Jumat, 2 Agustus 2019.

PENGUMUMAN JADWAL PELAKSANAAN UJIAN SKRIPSI PERIODE GENAP 2018-2019